Senin, 12 Mei 2014

Cinta dan Inspirasi Sang Patriot


Ny. Hj. Mas Roro Roekmini Sroedji

"Aku ini hanya wanita dengan tiga anak yang masih kecil. Sebentar lagi anak keempat kita lahir. Aku tidak minta Bapak berhenti jadi tentara. Aku hanya minta agar sekali ini saja Bapak menunda keberangkatan. Aku ingin didampingi saat melahirkan, Pak."

Kalimat itu diucapkan Rukmini pada suaminya, Moch. Sroedji. Kalimat itu pula yang terukir di sebuah novel karya Irma Devita Purnamasari, Sang Patriot Sebuah Epos Kepahlawanan, di halaman 137. Kala itu Rukmini sedang hamil tua. Kepada istri tercinta, Sroedji mencoba menenangkan.

"Bu, aku meminta pengertianmu. Ini semua juga demi anak-anak, demi cucu-cucu kita. Aku ingin mereka nanti dapat menghirup nikmatnya kebebasan. Aku ingin mereka tidak mengalami sengsara, menjadi bangsa jajahan, bangsa babu."

Sangat berat bagi Rukmini untuk menerima kenyataan itu. Akan tetapi kondisi perang menuntut semua orang untuk rela berkorban, lebih mementingkan kepentingan kemanusiaan. Apalagi dirinya adalah istri dari seorang komandan.

"Ah, andai saja suamiku bukan tentara. Andai dia benar-benar hanya pedagang," keluh Rukmini dalam batin.

Kelak, anak bungsu mereka diberi nama Pudji Redjeki Irawati. Adapun Irma Devita, penulis novel Sang Patriot, dia adalah putri dari Pudji Redjeki Irawati. Di lembar terdepan novel, penulis mengukir sebuah kalimat manis untuk Nenek tercinta.

Teruntuk: Rukmini, wanita mulia berhati sekeras baja.

Melihat sebaris kalimat di atas, saya berkesimpulan bahwa orang yang paling memahami tentang siapa dan bagaimana pemikiran Letkol Moch. Sroedji bukanlah para sejarawan sejarawati, bukan pula para pejabat yang meresmikan patung beliau di depan kantor Pemerintah Daerah Jember. Dia adalah Rukmini, sang istri yang menjalani hidup secara patriot. Menurut saya secara subyektif, Rukmini adalah istri yang keren.

Di kemudian hari, paska gugurnya Letkol Moch. Sroedji di medan perjuangan (Karang Kedawung, Jember, 8 Februari 1949), ia menjanda dengan empat anak yang masih balita sejak umur 26 tahun.

Rukmini wafat dengan tenang pada saat tidur (di Jakarta) tahun 2000, di usianya yang ke 79 tahun. Selama 53 tahun dirinya berjuang dalam sepi, separuh lebih dari hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan hidup dan kehidupan keempat buah hatinya. Di mata saya, Rukmini adalah Sang Patriot.

Penulis memiliki waktu yang panjang bersama Neneknya. Itulah kenapa dia bisa meraba-raba tentang bagaimana dulu ketika Kakeknya berjuang. Di jejaring sosial facebook, penulis pernah mengungkapkan hal ini.

"Wanita istimewa dengan hati sekeras baja. Wanita yang sangat saya sayangi inilah yang menjadi alasan saya untuk memenuhi janji masa kecil saya, dengan menuliskan dongeng-dongeng pengantar tidurnya."

Novel karya Irma Devita tak hanya berbicara tentang tokoh sentral Letkol Moch. Sroedji. Ia juga menuliskan nama-nama pejuang yang lain. Terlepas dari itu, saya terkesan dengan sosok Rukmini. Perannya dalam novel ini lembut tapi turut menentukan jalannya cerita.


Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot

2 komentar:

  1. Terima kasih sudah menuliskan dan menyoroti khusus ttg wanita kesayangan saya.. :)

    BalasHapus